Benarkah Agama Sebuah Solusi Mutlak Segala Masalah

Sebuah persoalan klasik, klise, namun tetap menarik untuk didiskusikan. Benarkah agama adalah solusi mutlak berbagai masalah bangsa?

Mengapa agama bukan solusi
Pertama, dan yang terutama, apa yang dimaksud pemahaman agama adalah sebuah hal yang sangat subjektif. Agama memang merupakan suatu hal yang pasti, saklek, dan terdoktrin, namun pemahaman akan agama itu sendiri adalah sesuatu yang subjektif, penuh opini, dan berbagai pertimbangan.

Pemahaman agama si A dapat saja, bahkan seringkali, berbeda dengan si B. Jika ada perbedaan seperti itu, siapakah yang benar? Tidak ada satu pihak pun yang berhak mengklaim pandangan dan pemahaman agamanya lebih baik dari pihak lain. Tidak bisa dan tidak dibenarkan seseorang menganggap dirinya lebih memahami agama hanya karena dia lebih hapal ayat-ayat Kitab Suci. Tidak dibenarkan seseorang menganggap ilmu agamanya lebih baik hanya karena dia mempelajari agama melalui pendidikan formal. Agama, adalah sesuatu yang pasti dan terdoktrin, namun pemahamannya adalah hal yang sangat subjektif, disinilah kekisruhan berawal.

Imam Samudera dan tokoh teroris lain adalah gambaran yang baik tentang kekisruhan antara agama dan pemahamannya. Bandingkan pemahaman Islam yang dimilikinya dengan pemahaman Islam yang dimiliki sebagian besar Umat Muslim Indonesia. Islam adalah agama yang cinta damai, namun pemahaman tentang Islam yang dimiliki Imam Samudera dan teman-temannya sangat jauh dari kesan damai. Kita tidak bisa menyalahkan Islam-nya, kita juga tidak bisa menyalahkan persepsi Imam Samudera tentang Islam, yang bisa kita salahkan adalah tindakan yang keluar akibat dari persepsi tersebut. Tindakan pengebomannya, tindakan-tindakannya yang merendahkan kemanusiaan. Mengapa persepsi Islam Imam Samudera tidak dapat disalahkan? Karena opini, sekali lagi, adalah sesuatu yang sangat subjektif dan tidak bisa dihakimi dari dan dengan opini lain.

Hal kedua yang menjadi perhatian adalah perbedaan sistem kepercayaan antar-agama. Jika pihak yang beragama sama saja dapat berbeda pemahaman, apalagi dengan pihak yang berbeda agama. Mudah sekali untuk berbeda pendapat dengan pihak yang berlainan agama, seorang Muslim dapat dengan mudah berbeda pendapat dengan seorang Kristen tentang ke-Allah-an Yesus, seorang Hindu dapat dengan mudah berbeda pendapat dengan umat Muslim atau Kristen tentang boleh tidaknya memakan sapi, demikian seterusnya.

Poin kedua ini perlu disampaikan karena agama tidak hanya berisi moral, namun ada doktrin-doktrin yang tidak bisa atau seringkali sangat sulit dicari titik temu atau jawaban logisnya. Doktrin-doktrin inilah yang membedakan agama yang satu dengan agama yang lain. Andaikan saja, agama hanya berisi ajaran-ajaran moral, maka kita dengan mudah menyetujui agama sebagai solusi mutlak. Namun, karena adanya perbedaan ini seharusnya kita justru menjadi bertanya-tanya, β€œBenarkah agama solusi terbaik untuk berbagai masalah?”. Jika kita berkata agama, kita tidak dapat menunjuk hanya pada ajaran moralnya saja. Kita harus menunjuk ajaran moral, dan juga sistem kepercayaannya. Yang terakhir inilah yang menyulitkan kita, semata-mata karena agama yang satu dengan yang lain berbeda sistem kepercayaannya.

Ketiga. Agama, seperti diyakini banyak orang adalah jalan menuju keselamatan, menuju surga. Barangsiapa melakukan ajaran agama, ia menyenangkan Tuhan. Pada tataran inilah agama menyimpan potensi konflik. Ketersangkutpautan antara agama dengan Tuhan seringkali membuat orang sulit membedakannya. Sangat sering orang menyamakan antara agama dengan Tuhan, hal ini yang membuat dialog antar agama atau kepercayaan menjadi sulit. Jangankan sebuah dialog, sebuah otokritik pun menjadi barang haram jika agama sudah disamakan dengan Tuhan. Otokritik mengkritisi agama, dan bukan Tuhan. Namun, kebanyakan orang sulit menerima pembedaan agama dengan Tuhan. Mengkritik agama disamakan dengan mengkritik Tuhan, haram. Sebuah sikap yang sangat kontra-produktif terhadap agama itu sendiri, bahkan seakan mengambil alih peran Tuhan.

Orang yang sudah yakin bahwa tindakannya menyenangkan Tuhan, apalagi jika ditambah embel-embel ‘membuahkan surga’, akan sulit sekali diajak melakukan dialog. Surga sudah dipastikan adalah magnet terbesar yang dapat menarik orang untuk berbuat apapun. Tuhan dan surga sama sekali bukan sesuatu yang negatif, namun perlu diperhatikan bahwa manusia berdasarkan kepentingannya sendiri justru seringkali mengeksklusifkan Tuhan. Menetapkan Tuhan sebagai sebuah hak milik pribadi atau kelompok. Hal seperti ini tentu menjadi langkah mundur mengingat sekarang ini dialog antar iman dan kepercayaan sangat diperlukan.

Tuhan, surga, dan agama seringkali menjadi pedang bermata dua. Sisi moral yang diajarkan sangatlah menakjubkan, andaikan semua orang mengamalkannya tentu akan ada kedamaian di bumi ini. Namun, disisi lain sistem kepercayaan yang berbeda untuk tiap agama ditambah dengan keinginan menggapai surga kerap kali membuat orang lupa untuk berpikir kritis, dan justru melakukan usaha-usaha yang bertentangan dengan niat mencapai masyarakat yang damai.

Pendidikan Sebagai Solusi Terbaik
Kembali kepada judul tulisan ini. Lalu apa yang menjadi solusi bagi banyak masalah?
Manusianya. Masalah-masalah yang muncul belakangan ini, maupun yang merupakan warisan masa lalu, dimulai dan dilakukan oleh manusia. Oleh karena itu, manusia jugalah yang harus dan dapat menyelesaikannya. Ada sebuah keyakinan bagi kalangan moderat dan pluralis, bahwa akar pangkal dari masalah-masalah bangsa saat ini, terutama masalah antar umat beragama, berawal dari kurangnya penghargaan akan pluralisme serta penempatan agama hanya sebagai seremoni belaka namun meninggalkan sisi kemanusiaannya. Jadi, solusinya adalah dengan pengajaran nilai moral universal, tanpa perlu membungkusnya dalam nama agama.

Agama, di Indonesia, seringkali hanya dipakai sebagai penyekat-nyekat berbagai komunitas. Kita tidak membutuhkan segregasi-segregasi seperi itu, tidak juga membutuhkan seremoni agama belaka yang seringkali justru merendahkan kemanusiaan. Bangsa ini sudah sangat kritis dan membutuhkan moralitas murni tanpa tendensi dan intrik kepentingan. Biarlah moralitas kemanusiaan yang bicara dan bekerja, jangan menyekatnya dalam agama-agama.

Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam hal ini. Pendidikan membentuk karakter-karakter yang menentukan ideologi dan garis haluan bangsa di masa depan. Cetaklah figur garis keras, dan negara ini akan menjadi negara agama dalam 10 tahun. Cetaklah figur yang pluralis dan penuh dengan moralitas, dan kita memperbaiki masa depan negara ini. Moral bukanlah hanya subset dari agama, moral adalah subset sejati dari kemanusiaan. Dialah yang perlu ditanamkan kepada generasi muda. Silahkan masukkan agama dalam pendidikan, namun tempatkan ia dalam kerangka kemanusiaan, moral, dan pluralisme.

16 thoughts on “Benarkah Agama Sebuah Solusi Mutlak Segala Masalah”

  1. Judul tulisan Anda ini lucu. Benarkah Agama sebuah solusi? Hmm… Solusi untuk apa? Masalahnya aja belum jelas kok sudah mencari solusi. Tetapkan dulu donk tujuannya. Aim-nya. Kemudian, jika umat manusia menggunakan Agama untuk mencapai tujuan tersebut (dan ternyata gagal), baru boleh dibilang bahwa Agama bukan solusi.

    Saya sendiri setuju kalau agama itu nggak usah ada aja. Tetapi, itu tidak praktis. Karena pada dasarnya, manusia selalu menciptakan agama2 baru sepanjang Jaman. Percuma aja berusaha menghilangkan.

    Di tulisan Anda, Anda menyebutkan bahwa pendidikan adalah solusi. Kembali lagi pertanyaannya: solusi untuk apa? Kemudian, pendidikan yang bagaimana? Pendidikan Agama? :p percuma aja dunk! Hehe.. πŸ™‚

    Saya sendiri pernah menulis mengenai pendidikan. Kalau mau, baca aja di:
    http://www.geocities.com/wisnuops/main.html?writings.html
    Atau langsung download di:
    http://www.geocities.com/wisnuops/MyDocs/AkhirDariPendidikan.pdf

  2. Mas Wisnu yang baik,
    terima kasih banyak. Saya baru ngeh dan ingat kalo blog ini tidak seperti milis yang spesifik :p

    Terima kasih banyak Mas, jadi intinya saya ingin mendebat pendapat pihak2 yang merasa bahwa untuk menuju Indonesia baru segalanya harus dimulai dari agama. Entah dengan menegakkan SI, menegakkan Hukum Kristen, atau hukum agama lain. Semuanya itu omong-kosong dan sia-sia, tidak lupa pula, otoriter.

    Saya yakin Mas Wisnu bisa mengerti hal ini. Terima kasih atas komentarnya.

    salam,

    Nathanael

  3. Mas Nathanael, agama itu salah satu solusi. Setiap apa saja dapat menjadi solusi bagi suatu masalah. Agama pada dasarnya bersifat humanis utopia. Di sisi ini agama adalah pemberi jalan terang bagi kehidupan batin dan (juga) kehidupan lahir seseorang.

    Mengapa agama itu ada ? karena agama itu adalah wujud yang terutama dari suatu kepercayaan. Kepercayaan itu terinstitusionalisasi dalam suatu lembaga yang bernama agama. Dimensi dalam agama itu sangat banyak, misalnya spiritualitas, ritual, hukum, sosial, dll. Jadi wajar kalau agama, secara ideal, adalah salah satu solusi bagi umat manusia untuk memecahkan permasalahan2 hidupnya.

    Saya suka tulisan kamu, tapi kamu kurang fokus. Fokuslah kepada satu titik. Mulailah dengan masalah, misalnya kasus pelecehan agama atau membawa panji-panji agama ke dalam negara, dll. Lalu bedahlah masalah itu dengan teori atau pengalaman atau opini yang kamu punya.

    Kamu alumni TN, saya juga. Kalau kamu mau lihat pembahasan tentang pluralisme yang saya tulis dari perspektif yang lain, lihat di sini : http://www.ikastara.org/forums/showthread.php?t=715

  4. Trims Bang,
    tadinya saya memang ingin fokus. Hanya setelah dipikir2, terlalu banyak tulisan yang harus saya buat jika menulis tiap2 masalah yang dibuat atas nama agama.

    Jadi saya memilih menulis satu yang langsung menentang pendapat penyelesaian masalah atas nama agama.

    Agama bisa jadi solusi, namun seperti yang saya tulis, dia sifatnya personal. Ketika sudah dalam komunitas, atau bahkan bangsa yang majemuk seperti Indonesia, peraturan agama tidak boleh dipaksakan.

    Karena itu, let me be the first to SAY NO!!!! For Teokrasi.–>

  5. Benarkah Agama Sebuah Solusi Mutlak Segala Masalah?

    benar, agamaku adalah solusi not just ritual.
    sy hanya percaya bukti tak hanya sekedar argumentasi dangkal. dan agamaku memang tlah terbukti tlah mampu memanusiakan manusia, mensejahterkan manusia, meninggikan derajat manusia, menjamin keamanannya, kesejahterahanya hingga tak ada warga negaranya yang layak menerima bantuan dari negara dan panjara pun kosong, bertahan hingga 1300 tahun lalu apa masih ada keraguan bahwa agamaku tidak becus mengurus manusia?

    bro.nathan mungkin beraggapan saya subjektif, OK itu wajar tapi belajarlah sejarah dunia sekali lagi belajarlah peradaban abad 7 s/d 13.kegemilangan yang tak mampu disainggi sistem manapun. kalau sekaranng Amerika memimpin dengan sistem sekuler(kapitalisme) baru 200 tahun dari kelahirannya sudah buat dunia kacau :tidak hanya membuat derita bagi manusia tapi juga hewan dan tumbuhan. kelaparan, kesengsaraan, pembantaian manusia, pergaulan bebas, kerusakan alam(limbah, bocornya ozon) karena para kapitalis hanya berfikir keuntungan semata duit…duit…dan duit. Membombadir palestina, irak, afganisthan gak masalah asal bisa mendapatkan minyaknya, dengan sgala macam skenario bullshit dengan memperalat PBB.

    saya tahu semua manusia sudah sangat mendambahkan kedamaian namun kadang jalan yang mereka tempuh tidak tepat.Lalu? sekarang saya balik tanya, benarkah memperbaiki manusia adalah solusi mutlak segala masalah? saya beri sedikit ilustrasi : Anda adalah seorang kepala rumah tangga dengan 2 orang anak. Anda baru saja di PHK. Anda tidak punya sama sekali uang untuk beli makanan. Anda mungkin bisa bertahan untuk tidak makan tapi anak anda? Mereka menanggis kelaparan dan tubuh mereka mulai pucat. Tidak ada seorangpun yang membantu. Apa yang akan anda lakukan? Apakah tidak mungkin anda mencuri untuk mendapat makanan?
    Memperbaiki manusia memang penting tapi mewujudkan sebuah sistem yang menjaga moral2 manusia didalamnya adalah mutlak, karena manusia mudah sekali khilaf apalagi jika terdesak. Anda tidak akan mencuri jika sistem telah menjamin kebutuhan pokok anda? Anda tidak akan mencuri jika mencari kerja itu mudah.OK

    Apa anda tidak rindu mewujudkan sistem yang seperti itu?

  6. Warhanie,
    bila semua yang Anda katakan itu benar, lalu mengapa sistem yang Anda unggul-unggulkan itu bisa tinggal kenangan? Tidakkah seharusnya tuhan anda berdiri membela sistem yang anda puji-puji tersebut?

    tidak perlu dijawab Mbak/Mas. Lebih baik jawablah ke diri anda sendiri, jawabannya bisa jauh lebih jujur, ketimbang harus menulis jawabannya di blog ini yang pasti akan dominan berisi pembelaan ketimbang kejujuran.

  7. wat nathan

    ada pepatah yang mengatakan “jika ingin terkenal maka kencingilah sumur zam-zam” atau bisa juga “jika ingin terkenal hancurkanlah kabah” atau “jika ingin terkenal hujatlah islam”. lagu lama yg dipakai untuk memberi kesan “pintar”, “jenius” karena merasa menjadi orang yg beda daripada orang lain dengan menuliskan kontroversi dari suatu permasalahan yg sensitif.

    selamat ya atas kesuksesannya dan semoga makin terkenal. tapi apakah lebih baik kalo berusaha dengan sesuatu yg positif?

  8. Denger-denger Dept. Pendidikan bakal memasukkan budi pekerti (lagi) dalam kurikulum pendidikan kita. Saya setuju kalau memang bahannya berasal dari falsafah dalam kultur bangsa sendiri. Kalau masih berbau doktrin agama tertentu (biasanya kultur asingnya masih lengket) sepertinya ya… kembali ke laptop :p

    Menurut muslim, Islam universal. Tapi (menurut saya) kebanyakan lupa bahwa Islam tidak sama dengan Arab. Kristen pun universal, tapi kultur Eropa tidak. Hindu dan budaya India harus dipisah dulu. Demikian pula dengan Buddha dari Cina atau bangsa lain.

    Sekadar pendapat. Tidak bermaksud mengusik orang yang sedang tidur pulas :p πŸ˜€

  9. mas cahya,
    saya sering bingung, bila ada suatu hal yang ‘menyimpang’, orang langsung menyatakan: “pendidikan agamanya kurang.” Padahal jelas sekali, orang2 yang di atas itu, para pejabat yang korup hingga PNS yang hobi bolos, apa mereka bukannya orang yang ngerti agama…

    Kebanyakan dari kita ini malas mikir, karena itu setiap ada masalah langsung dikembalikan ke yang namanya ‘pendidikan agama’, yah karena memang di negeri ini agama adalah cara terbaik lari dari diskusi argumentatif yang positif

  10. Wah, Mas Nathanael, ini problem akut. Saya ingin berbagi wawasan aja. Dalam hal ini saya melihat dari sudut pandang yang agak berbeda. Maklum didikan Jawa πŸ˜€

    Ada 3 kata yang selalu saya ingat (pesan saudara tua): hangerti, mangerti, makarti. Terjemahan bebasnya, tahu, paham (nalar), menjadi burdi pekerti (akhlak). Dari sini saya mendapat wawasan bahwa tahu (atau hapal) ajaran agama itu baru kelas anak-anak, tapi sudah ada nilai plus kalau ada niat yang baik.

    Selanjutnya, mesti berusaha memahami secara mendalam dan detail, tapi belum cukup juga karena pemahaman hanya di otak saja. Manifestasi dari pemahaman itu harus ada, yaitu makarti atau istilahnya ya budi pekerti itu.

    Kalau sekadar tahu tanpa dilandasi pemahaman yang cukup, hasilnya hampir pasti ngawur. Jadi, kalau dibilang pendidikan agamanya kurang menurut saya ada benarnya. Tapi dari sudut pandang tersebut tentunya. Soalnya pendidikan yang diterima tidak memanifestasikan diri menjadi budi pekerti.

    Orang tahu korupsi itu salah, tapi merasa gajinya kurang. Ya sudah korup 1 miliar, lalu 100 juta disedekahkan. Itung-itungan dari referensi guru agama ternyata pahala sedekah katanya 70x lipat, misalnya. Jadi, sudah untung toh πŸ˜€ karena nilai sedekah mencapai 7M!

    Ada cerita nih… Saya punya kawan yang punya prinsip bahwa sabar itu sama dengan pengertian soal latar belakang permasalahan. Dia benar-benar menjadikan prinsip itu sebagai bagian dari kepribadiannya. Ternyata dari situ dia bisa hidup tenang, ceria, dan tentu saja sabar. Tadinya saya pikir hanya sugesti. Tapi, dalam kondisi genting dan serba ruwet pun nyatanya dia tak cuma tenang, tapi bisa memberi masukan solusi yang pas. Buat saya itulah sabar yang sejati, yang berasal dari hati.

    Lagi-lagi sekadar pendapat. Mereka yang tidak suka atau terusik silakan lewat saja, tidak perlu menyapa πŸ˜€

  11. kebetulan mas,
    saya juga orang jawa, tapi emang nggak mendalami falsafah jawa seperti mas, meskipun saya tetap tergila-gila pada cerita ramayana, atau bahkan pada ronggowarsito hehe

    soal sabar itu Mas, saya pernah baca beberapa kebijaksanaan Zen, dalam hal ini kebahagiaan/ketenangan didapat ketika kita menerima yang kita terima tanpa menginginkan lebih lagi, “you should not want.”

  12. Zen itu mantap juga… πŸ˜€

    Mungkin ada baiknya Anda mulai mencari jawaban dari yang dekat dulu, para pendahulu kita itu. Saya punya 2 referensi buat tambahan bekal perjalanan πŸ˜€

    Soal pertanyaan & jawaban, ada dua: “urip kuwi sejatine hamung lelakon” atau hidup itu hanyalah sebuah perjalanan. Satu lagi: “ngelmu kuwi kelakone kanthi laku” atau ilmu itu didapat melalui (proses) perjalanan, yang mana memang menimbulkan jawaban tapi sekaligus menambah lagi pertanyaan. Makanya orang bisa tetap semangat untuk terus berjalan πŸ˜€

    Bagaimanapun kalau cuma nongkrong di terminal aja (karena takut kepanasan di jalan barangkali), terbuka kemungkinan menjadi korban calo yang tujuannya memang menaikkan angka penjualan… he he he πŸ˜€

  13. kalo ingin terkenal hujatlah islam?, kalo boleh jjr neh kalo org islam pengen tkenal jg mhujat agama laen. Ah lagu lama. Baeknya laskarjihad tahanust introspeksi diri.

  14. fanatik adalah kiblat bagi orang munafik, saya kutip dari seorang HABIB yg juga ustad pengajar yg pernah berbincang dengan saya, jadi fanatik boleh aja tapi 25% aja, supaya kita tdk menjadi katak dalam tempurung dlm ajaran agama kita sendiri, dan tdk terdoktrin secara buta…!!!

  15. islaam unggul, tak ada yg lebih unggul dp islaam.

    Nathan:
    dari pengalaman sih, one-line comment tanpa argumentasi gini bakal berujung eyel-eyelan doang, jadi ditanggapi dengan senyum aja πŸ™‚

  16. Menyibak rumus kehidupan memang susah. Sama halnya mendifinisikan sebuah keyakinan dan bentuk ajaran ( agama ). sy pernah hidup di luar negri yg hampir segalanya berbeda tetapi ada salah satu yg sama yaitu bagaimana cara menghargai diri sendiri.
    Nurut saya agama bisa menyelesaikan masalah moral tetapi yg menentukan berhasil tidaknya tergantung usaha kita dan pola pikir kita. Dlm menyelesaikan masalah tentang nilai pasrah di Indonesia dgn negara lain berbeda dimana di Indonesia masih lemah. Pernah sy berdiskusi dgn orang jepang yg pd intinya mereka berkesimpulan orang Indonesia manja karena dipengaruhi pola pikir dan lingkungannya baik pemahaman tentang agama, manusia, arti hidup dsb. Intinya manusia yg sempurna punya segalanya dan mampu menyelesaikan masalah dgn menggerakan sendi sendi yg ada di tubuh manusia tanpa mudah mengatakan “semua diatur olrh agama”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *