Tempat Ibadah Bau Kencing

Setiap ada acara di luar kota yang bertepatan dengan akhir pekan, saya selalu menyempatkan diri untuk ke gereja di tempat baru. Kebetulan di gereja Katolik tata ibadah dan segala macamnya sama di mana pun, jadi saya bisa bebas memilih gereja untuk ibadah. Minggu 3 September 2017 kemarin tidak beda. Karena ada conference di San Francisco (SF), California, saya pun mencari gereja Katolik di SF yang dekat dengan penginapan.

Dua tahun lalu, saat conference di kota ini juga, saya ke gereja Notre Dame Des Victoires. Kali ini saya putuskan untuk cari gereja lain. Setelah beberapa menit menelusuri Google Map, saya menemukan satu gereja yang hanya butuh 10 menit jalan kaki: Gereja St. Boniface. Saya putuskan untuk pergi ke ibadah pukul 7.30.

San Francisco kota yang relatif kotor untuk ukuran Amerika, dan mahal. Bau pesing yang menyengat bisa tercium di beberapa wilayah. Di trotoar-trotoar kota ini, cukup banyak homeless atau mereka yang tanpa tempat tinggal dan harus tidur di sleeping bag di pinggir jalan. Karena tanpa tempat tinggal, otomatis mereka juga tidak memiliki toilet. Biasanya untuk buang air kecil, mereka lakukan di botol yang kemudian dibuang di tempat sampah atau tempat lain. Untuk buang air besar? Terus terang saya tidak tahu, tapi rasanya lebih dari sekali saya melihat kotoran manusia di pinggir trotoar.

Continue reading Tempat Ibadah Bau Kencing

Game of Thrones dan Kitab Suci

Sebuah tulisan untuk menyambut Game of Thrones Season 7. Valar Morghulis.

Kamu tahu A Song of Ice and Fire (ASOIF)? Buku karangan G.R.R. Martin (GRRM) ini adalah inspirasi bagi Game of Thrones (GoT), film seri yang tayang di HBO. Buat saya ini film seri terbaik setelah The Wire. Bagi yang tidak familiar, plot GoT seperti ini: ada zombie White Walkers di utara, ada kerajaan yang saling berperang di barat, dan ada tiga naga di timur.

Night King, raja zombie dari Utara

GRRM lihai sekali bercerita dan membuat penasaran fans-nya. Ada puluhan fan theories tentang alur cerita GoT, terutama tentang siapa sebenarnya Azor Ahai, si pangeran yang dijanjikan buku primbon akan menyelamatkan dunia dari para zombie. Ada yang bilang Jon Snow, ada yang bilang Jaimie Lannister, ada juga yang bilang Ser Pounce—seekor kucing.

Continue reading Game of Thrones dan Kitab Suci

Pilkada DKI: Tanpa Data Kita Buta

In God we trust, all others must bring data.
(W. Edwards Deming)

Pilkada DKI sudah selesai dan kita sudah tahu pemenangnya, setidaknya versi Quick Count. Selamat buat yang menang, salut untuk pengabdian yang kalah selama ini. Saya tidak akan menulis kenapa Ahok kalah. Biarlah itu menjadi urusan pengamat. Yang akan saya tulis adalah mengapa menurut saya ilmuwan politik Indonesia baru saja melewatkan kesempatan emas untuk memahami secara lebih mendalam karakteristik pemilih Indonesia pada umumnya dan Jakarta pada khususnya.

Saya akan beri dua contoh ketidakmampuan kita menjawab secara memuaskan dua pertanyaan penting, dan apa yang bisa kita lakukan di masa depan untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara lebih baik.

I. Kita Belum Bisa Menjawab Secara Meyakinkan Kenapa Orang Memilih Ahok atau Anies

Sudah banyak laporan survei tentang alasan-alasan orang memilih Ahok dan Anies. Sayangnya, survei-survei itu menerima begitu saja jawaban responden dan tidak membedakan dua kemungkinan skenario:

Continue reading Pilkada DKI: Tanpa Data Kita Buta

Manusia di Negeriku

Kata kakek, manusia itu kodrat
Bukan gelar
Tidak bisa diberikan
Tidak bisa diambil

Tapi aku bingung
Kenapa di negeriku
Makin sedikit manusia yang dianggap manusia

Ahli sejarah bilang
Dulu tahun 1965
Kita buat definisi
Manusia tidak boleh komunis

Haha! Kita senang
Kita buru para komunis itu
dan kita bunuh

Waktu aku SD
Dulu tahun 1998
Kita buat definisi
Manusia tidak boleh Cina

Kita bakar lah toko-toko mereka
Dan kita perkosa perempuan-perempuannya

Waktu aku bangun pagi
Suatu hari di 2011
Kita buat definisi
Manusia tidak boleh Ahmadiyah

Bergeraklah kita membela kemanusiaan
Kita pukuli para Ahmadiyah bukan manusia
Dan kita usir dari rumahnya

Waktu aku sedang bersama pacar
Suatu pagi di 2012
Kita buat definisi
Manusia tidak boleh Syiah

Tanpa ampun
kita buru para bukan manusia itu
Dan kita labelkan pada mereka, sesat

Puas
Bangga
Untuk apa menyesal

Kalau perlu, besok kita murnikan lagi manusia
Tidak boleh bertato
Tidak boleh liberal
Tidak boleh ateis
Tidak boleh homoseksual
Tidak boleh berganti kelamin
Tidak boleh melacur demi sesuap nasi
Tidak boleh tidak soleh

Tidak boleh…
Tidak boleh tidak setuju dengan kita

Chicago, 30 September 2012
untuk mereka yang harus mati hanya karena berbeda

This is ‘Muricaaa!

Pernah nonton cowok-cowok nyaris telanjang di 300 yang teriak-teriak “This is Spartaaa!”? Nah, Amerika juga suka teriak “This is ‘Muricaaa!” setiap ngomongin kepemilikan senjata api (gun rights). Meskipun dinobatkan sebagai negara dengan tingkat kematian oleh senjata api tertinggi, Paman Sam sepertinya gak pernah belajar dan tetap hardcore dalam pendirian guns for all-nya. Kenapa? Karena… This is ‘Muricaaa!

Continue reading This is ‘Muricaaa!

Membenahi Partai dengan Subsidi

Partai di Indonesia senantiasa membawa kontradiksi dan dilema. Di satu sisi, tidak ada demokrasi yang tidak memerlukan partai. Partai mengumpulkan dan menyalurkan aspirasi masyarakat. Di sisi lain, partai di Indonesia identik dengan korupsi dan kepentingan. Berbagai survei menunjukkan bagaimana publik memandang partai bukan sebagai penyalur aspirasi tapi sarana sekelompok orang untuk meraih kekuasaan dan kekayaan. Tidak heran bila kemudian publik menolak subsidi negara kepada partai, seperti hibah 1 trilyun untuk partai atau dana aspirasi untuk anggota dewan.

Penolakan demikian bisa dimaklumi. Tapi sekedar menolak subsidi kepada partai juga bukan sikap yang produktif. Partai memerlukan biaya untuk melaksanakan fungsinya menjaring aspirasi dan melakukan kaderisasi. Bila partai tidak memiliki uang untuk menjalankan fungsi-fungsi tersebut, maka pilihannya hanya mereka mengabaikan fungsi-fungsi itu atau mereka mencari sumber pendanaan lain yang bisa jadi ilegal. Persoalannya dengan demikian bukanlah apakah kita harus menolak atau menerima negara mensubsidi partai tapi bagaimana merancang sistem subsidi yang memungkinkan partai menjalankan fungsinya dan secara bersamaan mereformasi mereka untuk lebih transparan.

Continue reading Membenahi Partai dengan Subsidi