Game of Thrones dan Kitab Suci

Sebuah tulisan untuk menyambut Game of Thrones Season 7. Valar Morghulis.

Kamu tahu A Song of Ice and Fire (ASOIF)? Buku karangan G.R.R. Martin (GRRM) ini adalah inspirasi bagi Game of Thrones (GoT), film seri yang tayang di HBO. Buat saya ini film seri terbaik setelah The Wire. Bagi yang tidak familiar, plot GoT seperti ini: ada zombie White Walkers di utara, ada kerajaan yang saling berperang di barat, dan ada tiga naga di timur.

Night King, raja zombie dari Utara

GRRM lihai sekali bercerita dan membuat penasaran fans-nya. Ada puluhan fan theories tentang alur cerita GoT, terutama tentang siapa sebenarnya Azor Ahai, si pangeran yang dijanjikan buku primbon akan menyelamatkan dunia dari para zombie. Ada yang bilang Jon Snow, ada yang bilang Jaimie Lannister, ada juga yang bilang Ser Pounce—seekor kucing.

Banyak juga teori tentang apakah the Seven Kingdoms (kerajaan-kerajaan manusia di barat) akan bersatu melawan zombie White Walkers yang merangsek dari utara; tentang hubungan saudara Jon Snow, Tyrion Lannister, dan Daenerys Targaryen; atau tentang apa yang sebenarnya Littlefinger / Varys rencanakan.

Singkatnya? Satu orang manusia (GRRM) dengan serial bukunya berhasil membuat berjuta manusia bertanya-tanya. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya GRRM pikirkan. Yang bisa kita lakukan hanya menebak.

Sekarang bandingkan dengan Kitab Suci agama manapun (tidak usah saling tunjuk, tunjuk saja agama sendiri). Orang yang percaya meyakini bahwa Kitab Suci berasal dari Tuhan, entah diturunkan langsung, didiktekan, atau lewat inspirasi bawah sadar.

Tapi anehnya, kita justru tidak boleh berbeda pendapat soal Kitab Suci. Kita hanya boleh menurut, percaya, dan menerima begitu saja pendapat atau teori orang yang katanya lebih ahli dari kita. Hukuman untuk berbeda pendapat cukup beragam dan kreatif, mulai dari dibilang kafir, dipenjara, sampai tidak didoakan ketika meninggal.


Kaos ini Kafir (Credit: toko.elsaonline.com/)

Aneh. Kita percaya Tuhan itu Maha segalanya. Bila memang Ia Maha segalanya, bukankah kalau Ia menulis buku, buku itu akan sangat kompleks dan sulit dimengerti pikiran manusia yang (katanya) kecil ini?

Kalau Tuhan menulis buku dan buku itu hanya boleh memiliki satu interpretasi, bukankah itu berarti buku itu adalah buku yang sangat sederhana dan penulisnya sendiri juga sangat sederhana?

GRRM itu manusia, tapi pikirannya bisa menghasilkan karya yang mengundang beragam interpretasi. Interpretasi mana yang benar? Hanya GRRM yang tahu. Manusia menebak, GRRM menentukan. GRRM adalah “tuhan” dalam dunia GoT dan semua fan theories berusaha menebak apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh “tuhan” ini.

Tuhan itu Tuhan, bukan manusia. Seharusnya Ia lebih besar, lebih kompleks, lebih misterius dari GRRM. Kalau Ia menulis buku, buku-Nya tentu juga kompleks dan secara otomatis mengundang beragam tafsir. Penulis yang hebat akan menulis buku yang mendalam, dengan berbagai sudut pandang yang rumit dan harus dipahami perlahan dengan sabar. Di sisi lain, penulis yang biasa aja paling akan menghasilkan karya yang dangkal dan simplistis saja.

Kalau kita haqqul yakin bisa mencerna apa yang Tuhan tulis dalam buku-Nya, dan kemudian menyalahkan atau mengkafirkan pemahaman yang lain, itu sama saja kita menganggap pikiran kita bisa memahami Tuhan. Kalau demikian, Tuhan kita tidak lebih besar dari pikiran kita dan Kitab Suci kita tidak lebih kompleks dari ASOIF. (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *