Negara Preman

Ada satu perbedaan menarik antara hidup dimasa reformasi dengan hidup di jaman Orde Baru. Jika dulu masyarakat menutup mulut rapat-rapat, sekarang yang terjadi justru perlombaan membuka mulut. Satu kecenderungan yang jelas terlihat adalah maraknya aksi-aksi massa. Jika pemerintah menerapkan suatu kebijakan, mereka yang menentang akan mengumpulkan massa dan turun ke jalan. Jika pasangan calon kepala daerah kalah dalam pilkada, mereka yang tidak puas juga akan turun ke jalan.

Aksi massa seakan menjadi senjata ampuh di saat ini, logikanya sederhana saja, yang banyak yang menang. Massa yang banyak seakan meningkatkan posisi tawar bagi tuntutan atau tema yang diusung. Seakan bukan hal yang penting, apakah tuntutan tersebut relevan dan berguna bagi masyarakat umum atau tidak, yang penting adalah banyaknya massa yang datang.

Continue reading Negara Preman

Apa yang menyebabkanmu menangis?

apa yang menyebabkanmu menangis, sahabatku?
di dalam dirimu terdapat semua kekuatan
kumpulkanlah seluruh daya kekuatanmu, oh mahluk yang berkuasa
dan seluruh alam ini akan rebah di bawah telapak kakimu

hanyalah batin ini yang berkuasa di atas dunia
dan bukanlah benda-benda mati
hanya orang-orang bodohlah yang suka mempersamakan dirinya
dengan badan mereka yang gemar menangis dan berkeluh kesah,

Continue reading Apa yang menyebabkanmu menangis?

RUU APP, Konstelasi Politik, dan Yang Tersembunyi

Jika diumpamakan seorang selebritis, RUU APP pastilah seorang super star. Hampir tidak ada orang yang tidak pernah mendengar namanya. Namun, diantara banyak orang yang pernah/sering mendengar kata tersebut, beberapa mungkin masih bertanya-tanya, seperti apakah RUU APP itu?

Banyak pihak menyatakan diri kontra, beberapa yang lain menyatakan pro. Dibalik semua itu, tidak bisa dipungkiri adanya kecenderungan sikap ikut-ikutan. Kontra karena temannya seorang penolak RUU APP, atau pro karena temannya pendukung setia RUU ini. Bukan sikap ikut-ikutan yang ingin dicari disini, tetapi kesadaran. Kesadaran untuk menolak dengan tegas sesuatu yang tidak benar, yang merendahkan kemanusiaan, merendahkan perempuan, serta mengancam keutuhan bangsa dan negara.

Continue reading RUU APP, Konstelasi Politik, dan Yang Tersembunyi

RUU Yang Kehilangan Makna

Saya tersentak. Sebuah foto perempuan tua menari, tanpa pakaian penutup bagian atas tubuhnya. Sebuah pertanyaan, “Apakah Anda akan menyebut ini pornografi?”. Pertanyaan yang dalam.

Sejenak saya merenung, dan teringat kepada sebuah Rancangan Undang-Undang. Sebuah Rancangan Undang-Undang tentang Anti Pornografi dan Pornoaksi. Kemudian saya menelisik pasal demi pasal RUU tersebut, mencari tahu apa itu pornografi.

Continue reading RUU Yang Kehilangan Makna

Belajar Tentang Keberanian

Menonton berita, membaca koran, apa yang kita temui akan sama. Korupsi, kriminalitas, dan konflik. Tindakan tanpa moral bangsa ini, khususnya para pejabatnya. Kunjungan darmawisata ke Mesir, vonis bebas terhadap tersangka korupsi, kita semua tidak asing lagi terhadap hal-hal itu. Sungguh aneh, kita tidak pernah belajar dari masa lalu. Sejarah berulang, persoalan yang kita alami sekarang terjadi juga dimasa lalu. Pertanyaannya adalah, mengapa kita tak pernah belajar? Atau mungkin kita belajar, tapi tidak berani bertindak?

Film adalah salah satu cara terbaik untuk mempelajari masa lalu. Banyak film berdasar kisah nyata yang memungkinkan kita belajar darinya. Di antara banyak film yang dibuat, kisah tentang keberanian satu orang yang mampu mengubah banyak hal adalah yang paling menarik. Paling cocok untuk bangsa ini, dimana keberanian membela yang benar adalah hal yang langka.

Continue reading Belajar Tentang Keberanian

Mendebat RUU Anti Pornografi dan Anti Pornoaksi

Satu lagi calon produk perundangan yang membawa polemik. Kali ini giliran RUU Anti Pornografi dan Anti Pornoaksi. Lama tidak terdengar gaungnya, RUU ini tiba-tiba sudah sampai di DPR. Menunggu pengesahannya yang ditargetkan Menneg PP pada pertengahan 2006.

Setidaknya ada tiga sudut pandang untuk melihat kontroversi yang timbul. Sudut pandang seni, feminisme, dan kebebasan berekspresi. Keberatan yang terakhir muncul karena RUU ini secara nyata telah memasuki ranah kebebasan individu. Intervensi yang berlebihan dari negara –baca: pemerintah- terhadap warganya.

Continue reading Mendebat RUU Anti Pornografi dan Anti Pornoaksi